Loading...

Universitas Airlangga

Pusat Pembinaan Karir, Kewirausahaan dan Hubungan Alumni (PPKKHA)

Alumni Sastra Indonesia Unair Sharing Informasi Berkarier Sebagai Jurnalis

Berita Umum | 18 Mei 2020 14:16 wib
Dia adalah Dimas Nur Apriyanto, Repoter Jawa Pos yang diundang oleh Pusat Pembinaan Karir, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni (PPKKHA) untuk mengisi seminar Airlangga Career Club (ACC). Seminar ini dilaksanakan pada Kamis, 14 Mei 2020 dengan tema "Career Opportunities as Reporter".



Dimas mengawali materinya dengan menceritakan pengalaman dan bagaimana beliau bisa menjadi bagian dari media Jawa Pos. Mulanya, Dimas mencoba mencari passion berdasarkan apa yang disukai. Beliau menyampaikan bahwa  beliau pernah mendaftarkan diri untuk berkerja menjadi jurnalis di CNN Indonesia dan juga Kompas, sebelum akhinya diterima di Jawa Pos saat ini.


Menurut Dimas, menjadi jurnalis akan mngetahui banyak hal. Misal pengetahuan tentang tindak kriminal, kedokteran, dan lain-lain. Seorang jurnalis paling tidak akan mengetahui berbagai informasi berdasarkan pengalaman yang telah dialami.


“Yang perlu dimiliki oleh seorang jurnalis adalah sifat idealis. Kehidupan seorang jurnalis sangat dinamis. Bahkan untuk kegiatan yang direncanakan untuk esok hari bisa berubah sewaktu-waktu. Hal itu terjadi karena jurnalis dibutuhkan kapan saja. Bukan terjadwal sebagaimana apabila bekerja di kantor”, ungkap alumni Sastra Indonesia yang lulus pada tahun 2015 silam itu.


Pembicara juga menampilkan foto-fotonya saat bertugas. Hal yang paling tidak disangka oleh pembicara adalah ketika beliau ditugaskan pergi ke Jepang untuk meliput berita mengenai dunia perfilman, pada saat itu adalah Star Wars. Menurutnya, jurnalis juga bisa menikmati jalan-jalan gratis, bertemu dan bahkan berbincang bersama orang-orang keren.


“Jika kalian ingin untuk menjadi jurnalis,  kalian harus memiliki kemauan dan pemikiran yang kritis”, pesan beliau.


Pada materinya, beliau juga menjelaskan perbedaan media online, cetak, dan televisi. Dalam televisi, hal yang dikedepankan adalah bentuk visualnya. Jadi di media televisi lebih mementingkan pengambilan video. Berbeda dengan media cetak, media ini  mencari angel lain dari suatu peristiwa, yang biasanya tidak diungkapkan oleh media online maupuan TV. Media cetak cenderung lebih detail pembahasannya.  Sedangkan media online mengedepankan update informasi terlebih dahulu. Yang terpenting adalah memberikan informasi mengenai peristiwa terlebih dahulu.


Seminar ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan pembicara. Hanif Ibrahim, salah satu peserta seminar bertanya, “Bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap media, karena seperti yang saat ini dipercaya banyak orang, bahwa terjadi hal-hal konspirasi?”


Seminar yang dimulai pukul 13.00 WIB ini berakhir pada pukul 15.00 WIB. Banyak peserta yang tertarik untuk menjadi jurnalis, sehingga berbagai pertanyaan dilontarkan oleh peserta pada sesi tanya jawab. Lebih dari 100 peserta hadir dalam seminar yang di selenggarakan via Zoom ini.

 


Penulis: Rainyta Andyana Putri


Link
Dilihat 21 kali